ARQAA LIBRARY

Perpustakaan SMP Unggulan Aisyiyah Bantul

NPP. 3402081D2000003

Resensi Buku “Sesuk” : Mendidik di Era Digital
Home » Resensi  »  Resensi Buku “Sesuk” : Mendidik di Era Digital
Resensi Buku “Sesuk” : Mendidik di Era Digital

Novel ini berkisah tentang seseorang bernama Gadis yang pindah dari rumah yang ada di kota besar ke sebuah rumah besar di perkampungan. Gadis hidup dengan empat anggota keluarga lainnya yang terdiri dari Ayah, Ibu, Gadis, Bagus dan Ragil.

Pada suatu malam, tepatnya saat mereka sedang makan malam sang Ayah menyampaikan bahwa mereka akan memulai hidup baru. Gadis pun bertanya-tanya. Ternyata mereka akan pindah ke rumah baru yang dibeli sang Ayah beberapa bulan lalu.

Sebelum pindah, sang Ayah mendeskripsikan tentang rumah itu. Rumah itu besar, dua lantai dengan halaman berumput yang luas. Gadis sebenarnya suka dengan rumah itu, sayangnya rumah itu jauh dari perkotaan dan sudah berusia tua.

Alasan keluarga Gadis pindah rumah itu sebenarnya karena adanya suatu kejadian yang membuat mereka trauma. Sekitar dua minggu sebelum mereka pindah, Ragil, adik bungsu Gadis yang baru berusia dua tahun terjatuh dari teras lantai dua. Waktu itu, Ragil asik bermain, sementara sang Ibu sibuk dengan telepon genggamnya. Beruntung saat Ragil jatuh, ada bibi yang membawa tumpukan baju. Kejadian itu membuat Ibu teriak histeris dan tidak berhenti menangis. Gadis dan lainnya pun ikut panik.

Pada saat awal pindah rumah, keluarga mereka berjalan tentram dan Bahagia. Namun belakangan, kejadian-kejadian aneh bermunculan. Mulai dari hilangnya Bagus, hingga kemunculan sosok bocah misterius.

Sementara itu, sang Ayah mulai sibuk bekerja mengurus usahanya. Sang Ibu yang berprofesi sebagai aktris pun sibuk sehingga keduanya jarang berada di rumah. Alhasil, Gadis lah yang harus mengurus kedua adiknya yakni Bagus yang masih berusia 6 tahun dan Ragil yang berusia 2 tahun.

Sewaktu Bagus hilang, Gadis dibantu warga sekitar mencarinya kesana-kemari. Beberapa warga menganggap Bagus tenggelam di waduk karena ada jejak kaki dan mainan Bagus di sana. Kenyataanya, Bagus bersembunyi di kolong kamar atas. Setelah Bagus ditemukan Gadis, anehnya ia tak lagi ingin bertemu orangtuanya. Menurut Bagus, Ayah dan Ibunya bukanlah orang tuanya sebenarnya. Bagus ketakutan saat melihat Ayah dan Ibunya. Ia berteriak dan mengatakan bahwa keduanya berasal dari dunia yang berbeda.

Warga kampung mengira Bagus kesurupan “Jongen”, hantu bocah yang paling mereka takuti. Hal tersebut dikuatkan dengan kejadian-kejadian aneh beberapa hari sebelum hilangnya Bagus. Di tengah kecurigaan warga, Ayah dan Ibu mendatangkan Dokter Sesuk untuk membantu Bagus. Gadis curiga pada sang dokter karena selalu berpakaian hitam dan misterius.

Apa yang dicurigai Gadis memang benar. Dokter Sesuk adalah dalang yang membuat semua keanehan ini terjadi. Dokter Sesuk menyebutkan bahwa Ayah dan Ibunya telah meninggal dan menggatinya dengan teknologi android yang menyimpan kenangan di kepala mereka. Begitu pula dengan kemunculan anak kecil yang digadang-gadang adalah hantu Jongen yang berkeliaran di desa, dia adalah android yang diciptakan Bagus dari kenangan masa kecilnya. Dari semua kejadian itu, Dokter Sesuk hanya ingin meminta bantuan Gadis untuk mengasuh Bagus agar bisa hidup lebih baik karena ia adalah asset masa depan.

Dari novel ini, kita dapat mengambil pelajaran tentang betapa pentingnya peran orang tua dalam mendidik anak di tengah gempuran teknologi. Kita juga juga dapat belajar dari keikhlasan Gadis dalam merawat adik-adiknya saat kedua orangtuanya sibuk dengan dunia masing-masing. (HAN)

Sumber diakses pada 25 Maret 2025 pukul 11.10:
https://arqaalibsmpua.id/resensi-buku-sesuk-mendidik-di-era-digital/

Post Comment