Sebuah sistem pemerintahan tidak akan berdiri tanpa adanya pilar yang menjadi tonggak dengan peran dan fungsinya masing-masing. Pilar tersebut menjadi penyangga dari pemerintahan inti sehingga jalannya pemerintahan dapat terlaksana dengan baik. Yogyakarta menjadi contoh wilayah di Indonesia yang dalam sejarahnya menerapkan sistem pemerintahan dengan pembagian kekuasaan. Kraton sebagai pemerintahan inti yang dipimpin oleh seorang sultan membagi empat pilar yang berbentuk masjid dengan setiap masjid memiliki kekuasaan dan tugas masing-masing untuk membantu penghulu hakim dan bertanggung jawab terhadap kraton. 4 pilar ini disebut dengan masjid pathoknegoro, secara makna pathok memiliki arti batas atau penanda, dapat diartikan juga aturan dasar. Sementara negara memiliki arti sebagai pemerintahan atau negara. Dengan demikian pathok negoro dapat dijelaskan yaitu batas wilayah atau pedoman dalam melaksanakan aturan pemerintahan. Secara lokasi, Masjid Pathok Negoro berdiri di wilayah pinggiran Kuthanegara (pusat pemerintahan kraton) dan negaragung (wilayah inti kraton berfungsi sebagai penyangga pusat pemerintahan). 4 masjid pathok negoro terletak seperti 4 arah mata angin.

Fungsi dari masjid pathok negoro berfungsi sebagai tempat pusat pendidikan, kegiatan keagamaan, sistem pertahanan, peradilan agama atau pengadilan surambi yang memutus perkara pernikahan, perceraian, dan pembagian waris. Letak 4 masjid Pathok negoro sebagai berikut:
- Masjid Mlangi
Masjid Mlangi dibangun sebelum Kasultanan Yogyakarta berdiri, yaitu pada tahun 1723. Pada masa itu daerah Mlangi sudah menjadi permukiman penduduk. Keberadaan Desa Mlangi berkaitan erat dengan Raden Sandiyo (kakak Sultan Hamengku Buwana I).
Penetapan Masjid Mlangi sebagai masjid Pathok Negara dan Desa Mlangi sebagai desa perdikan merupakan penghargaan Sultan Hamengku Buwana I terhadap Raden Sandiyo atau Kiai Nur Iman sebagai kakaknya. Di kompleks Masjid Mlangi terdapat makam patih pertama Kasultanan Yogyakarta, yiatu Patih Danureja I yang meninggal tahun 1799. Masjid Mlangi sekarang terletak di Dusun Mlangi, Desa Nogotirto, Gamping, Sleman. Masjid ini dikenal dengan sebutan Masjid Jami’ Mlangi.
- Masjid Ploso Kuning
Masjid Ploso Kuning diperkirakan didirikan setelah tahun 1724. Sejarah pendiriannya berkaitan erat dengan Kiai Mursodo (putra Kiai Nur Iman). Masjid Ploso Kuning terletak di Dusun Ploso Kuning, Desa Minomartani, Kecamatan Ngaglik, Sleman.
- Masjid Dongkelan
Sejarah berdirinya Masjid Dongkelan bermula dari peranan Kiai Syihabudin I yang berhasil mengusir pemberontakan Raden Mas Said dari wilayah Kasultanan Yogyakarta setelah Perjanjian Giyanti. Atas jasanya tersebut, Sultan Hamengku Buwono I menganugerahi Kiai Syihabudin I tanah perdikan di Dongkelan dan memerintahkannya untuk mendirikan masjid. Setelah itu ia diangkat menjadi Abdi Dalem Pathok Negara. Masjid Dongkelan diperkirakan didirikan setelah Perjanjian Salatiga tahun 1757. Masjid Dongkelan terletak di Kauman, Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Bantul.
- Masjid Babadan
Masjid Babadan didirikan pada tahun 1774, masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana I. Pada masa penjajahan Jepang (1942-1945), Babadan pernah direncanakan menjadi tempat gudang senjata untuk keperluan perang. Oleh karena itu, masyarakat Babadan banyak yang pindah ke arah utara menuju Kentungan, termasuk memindahkan masjid Babadan. Rencana Jepang untuk menjadikan Babadan sebagai pusat penyimpanan amunisi tidak jadi, sehingga masyarakat kembali ke Babadan dan membangun masjidnya lagi. Masjid Babadan terletak di Kampung Kauman Babadan, Desa Banguntapan, Kecamatan Banguntapan, Bantul.
Kini masjid pathok negoro menjadi cagar budaya Yogyakarta yang menjadi tempat wisata karena menyimpan sejarah panjang dari sistem pemerintahan kraton Yogyakarta.

